Mengapa saya mengambil judul ini ? yang utama adalah karena merupaka
tugas dari dosen sofskill universitas gunadarma, selain itu saya juga tertarik
dengan sejarah, Bangsa yang besar
adalah bangsa yang mau mengenang dan menghargai jasa-jasa para
pahlawannya artinya Dengan cara bangsa mengingat perjuangan jasa
para pahlawan dan mau menghargai jasa tersebut dengan cara meneruskan
perjuangan pembangunan secara berkelanjutan.
menciptakan
semangat kebangsaan dan nasionalisme yang kuat, hal ini dapat membuat sebuah
bangsa lebih kuat dan besar serta tahan terhadap perpecahan. Bangsa yang besar
dan kuat dapat belajar dari sejarah para pahlawan, menjadikan sejarah yg dibuat
para pahlawan sebagai bahan pembelajaran & evaluasi serta dpt menjadi
motivasi untuk menapaki masa depan.
Seperti kita ketahui 1 OKtober adalah bertepatan dengan hari kesaktian
Pancasila, dimana pada beberapa tahun lalu satu hari sebelumnya telah terjadi
tragedi G30SPKI yang terkenal. Dan syukur Negara kita tercinta Indonesia
selamat dari upaya pemusnahan tersebut.
G30S/PKI yang juga dikenal
dengan nama aslinya, Gerakan 30 September atau singkatan lain berupa Gestapu
(Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober) merupakan
salah satu peristiwa yang terjadi ketika Indonesia sudah beberapa tahun
merdeka. Sesuai namanya, peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 September 1965
malam, hingga esok harinya dimana ada pembunuhan tujuh perwira tinggi militer
dalam sebuah kudeta.
Pada 30 September itu
telah terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap jenderal-jenderal putra
terbaik bangsa Indonesia. Mereka yang menjadi korban itu adalah: Letnan
Jenderal A. Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen Haryono, Mayjen S. parman, Brigjen
D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo, Letnan Satu Pire Andreas Tendean, dan Brigadir
Polisi Karel Susult Tubun. Sementara Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan
diri dari kepungan G.30.S PKI, meski kakinya kena tembak dan putrinya Ade Irma
Suryani menjadi korban dan beberapa hari kemudian meninggal dunia.
Pada saat bersamaan
diumumkan pendemisioniran Kabinet Dwikora. Jam 14.00 diumumkan lagi bahwa Dewan
Revolusi diketuai oleh Letkol Untung dengan wakil-wakilnya Brigjen Supardjo,
Letkol (Udara) Heru, (Laut) Sunardi dan Arjun Komisaris Besar Polisi Anwas.
Deputy II MEN/PANGAD MAYJEN
TNI Suprato, Deputy III MEN/PANGAD Mayjen TNI Haryono MT, ASS 1 MEN/PANGAD
Mayjen TNI Suparman, ASS III MEN/PANGAD Brigjen TNI DI Pandjaitan, IRKEH OJEN
AD Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, yang kemudian beliau mendapat gelar sebagai
Pahlawan Revolusi. Usaha PKI untuk menculik dan membunuh MEN PANGAB Jenderal
TNI A.H. Nasution mengalami kegagalan, namun Ajudan beliau Lettu Czi Piere
Tendean dan putri beliau yang berumur 5 tahun Ade Irma Suryani Nasution telah
gugur menjadi korban kebiadaban gerombolan G 30 S/PKI.
Dalam peristiwa ini Ade Irma Suryani telah
gugur sebagai tameng Ayahandanya. Para pemimpin TNI AD tersebut dan Ajudan
Jenderal TNI Nasution berhasil diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI
tersebut, kemudian secara kejam dibuang/dikuburkan di dalam satu tempat yakni
di sumur tua di Lubang Buaya daerah Pondok Gede
Setelah adanya tindakan PKI
dengan G 30 S/PKI-nya tersebut, maka keadaan di seluruh tanah air menjadi
kacau. Rakyat berada dalam keadaan kebingungan, sebab tidak diketahui di mana
Pimpinan Negara berada. Demikian pula halnya nasih para Pemimpin TNI AD yang
diculikpun tidak diketahui bagaimana nasib dan beradanya pula.
Usaha untuk mencari para
pimpinan TNI AD yang telah diculik oleh gerombolan G 30 S/PKI dilakukan oleh
segenap Kesatuan TNI/ABRI dan akhirnya dapat diketahui bahwa para pimpinan TNI
AD tersebut telah dibunuh secara kejam dan jenazahnya dimasukan ke dalam sumur
tua di daerah Pondok Gede, yang dikenal dengan nama Lubang Buaya.
LALU
MENGAPA SOEHARTO Menjadikan 1 OKTOBER Sebagai HARI KESAKTIAN PANCASILA?
Hari Kesaktian Pancasila
dilahirkan oleh Jenderal Soeharto dalam rangka melakukan terhadap
pemerintahan Presiden Soekarno. Sedangkan Pancasila dilahirkan pada tanggal 1
Juni 1945 dengan Bung Karno sebagai penggalinya. Padahal sang penggali sendiri
tidak pernah menjadikannya sebagai pusaka yang sakti, sehingga menjadi sesuatu
yang lahir secara wajar dan sesuai dengan keadaan obyektif pada waktu itu.
Tetapi dalam perkembangannya kemudian selama pemerintahan Bung Karno, Pancasila
senantiasa diterima oleh bangsa Indonesia sebagai dasar berbangsa dan
bernegara, dan dengan dasar Pancasila jugalah kemudian
rongrongan-rongrongan dan pemberontakan kaum reaksioner DI/TII,
PRRI/Permesta dan tindakan mereka yang membentuk Dewan Gajah, Dewan Banteng dan
sebagainya kemudian bisa dihancurkan dengan dukungan Rakyat.
Oleh karena Pancasila itu
diterima dan didukung oleh Rakyat, walaupun diantara para pendukung Pancasila
itu sendiri belum tentu bisa memahaminya secara jelas, namun kepercayaan atau
kecintaan Rakyat terhadap Pancasila dan penggalinya (Bung Karno) telah sangat
melekat. Hal inilah yang kemudian dimanipulasi oleh Jenderal Suharto dan
jenderal-jenderal Angkatan Darat lainnya untuk mengkhianati dan menghancurkan
Pancasila dan penggalinya sekaligus.
Daftar Pustaka :




EmoticonEmoticon